SELAYANG PANDANG

Pemuda Demokrat Indonesia di dirikan pada tanggal 31 Mei 1947 di Sala, mempunyai landasan idiil adalah Pancasila 1 Juni 1945 dan azas perjuangan Marhaenisme ajaran Bung Karno.


Pemuda Demokrat Indonesia adalah organisasi kemasyarakatan sekaligus organisasi pergerakan yang bersifat independen dan terbuka, anti penindasan, kemiskinan dan ketidakadilan.


Pemuda Demokrat Indonesia bertujuan :

1. Mempertahankan dan mengamankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. Mengisi kemerdekaan dengan mewujudkan masyarakat adil dan makmur material spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
3. Mewujudkan tercapainya perdamaian dunia yang sempurna dan abadi yang menjamin hubungan antar bangsa atas dasar persamaan hak dan derajat dalam satu dunia baru yang bebas dari kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, feodalisme, komunisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.


Pemuda Demokrat Indonesia berfungsi sebagai :

1. Wadah persatuan dan kesatuan sekaligus alat perjuangan bagi segenap Pemuda Nasionalis, Pancasilais dan Marhaenis;
2. Tempat mendidik dan menggembleng para pemuda menjadi kader pemimpin segenap lembaga dan tingkatan;
3. Kekuatan moral dan kekuatab sosial, keikutseraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Dalam rangka mewujudkan fungsi serta tujuan organisasi, Pemuda Demokrat Indonesia berusaha :

1. Melaksanakan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945;
2. Menanamkan dan menumbuhkembangkan kesadaran serta kecintaan ber-Bangsa, ber-Tanah Air, ber-Bahasa Indonesia;
3. Berperan aktif, korektif, konstruktif dalam proses pembangunan bangsa dan negara;
4. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan organisasi pemuda, baik dalam negeri maupun luar negeri atas dasar persamaan han dan persamaan derajat.















Kamis, 21 Januari 2010

Runtuhnya Mitos Mekanisme Pasar

Oleh : Abdul Mun’im DZ

04/02/2009

Ketika negeri ini menganut tata-kapitalisme tulen sejak reformasi, yang sebelumnya hanya kapitalisme semu, maka semua perkara mulai dari ekonomi sendiri, masalah sosial, ilmu pengetahuan dan politik dijalankan dan ditimbang menurut mekanisme pasar. Pasar dianggap sebagai tata kehidupan yang memiliki mekanisme yang serba teratur dan objektif. Objektivitas itulah yang diserahi tanggung jawab untuk mengelola mekanisme itu secara adil menurut hukum suplay and demand (ketersediaan dan permintaan).


Mekanisme atau tepatnya hukum pasar itu memperlihatkan sosoknya ketika terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak dunia, dimana pemerintah yang menetapkan harga berdasarkan daya beli masyarakat mulai dituntut untuk menyesuaikan dengan harga pasar. Pemerintah mengurangi subsidi minyak dengan alasan mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Tetapi ketika harga minyak turun ternyata pemerintah tidak mau menurunkan harga, maka timbullah protes, dimana pemerintah tidak mentaati mekanisme pasar, padahal harga minyak tidak hanya turun tetapi telah anjlok serendah-rendahnya.

Baru ketika ada tekanan sosial dan politik baik dari rakyat, parlemen termasuk pengusaha pemerintah mau menurunkan harga, agar ekonomi nasional bangkit. Karena tekanan yang kuat beserta datangnya musim kampanye politik Pemilu 2009, pemerintah terpaksa menurunkan harga minyak, demi kepentingan politiknya sendiri, bukan untuk memulihkan ekonomi nasional. Sebagai rentetannya diharapkan oleh semua pihak dengan menurunnya harga minyak ini semua harga barang dan jasa juga turun, dan ini menjadi ajang kampanye yang subur.

Tetapi apa yang terjadi, walaupun harga minyak telah turun beberapa kali hingga mencapai belasan persen, tetapi tidak satupun pengusaha yang mau menurunkan harga, terutama pengguna minyak yaitu sektor transportasi. Ketika harga minyak naik, sektor ini langsung menuntut kenaikan. Tetapi ketika harga minyak turun mereka sepakat untuk tidak menurunkan ongkos angkutan. Mereka tidak mau tahu dengan mekanisme pasar, pengusaha angkutan dengan kasar memeras para pengguna jasa, mereka sama sekali tidak mau menurunkan tarif. Pemerintah mengklaim bahwa aturannya ditaati, padahal di lapangan dikhianati. Aparat pemerintah tidak ada yang melakukan pengawasan atau razia, hanya bikin pernyataan di media massa, akhirnya para penumpang rugi sendiri tanpa perlindungan dari lembaga konsumen sekalipun.

Akhirnya rakyat sebagian melakukan reaksi dengan tindakannya sendiri, melakukan bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi. Hal itu dimungkinkan karena harga minyak sudah turun sehingga biaya bisa lebih ditekan, mengharapkan mekanisme pasar sudah tidak bisa lagi, langkah sendiri lebih dipercayai. Maka akibatnya kemacetan meningkat di mana-mana, para pengendara sepeda motor makin memadati kota-kota besar, sehingga kesemrawutan di jalan dan segala angkutannya tak lagi terkendalikan.

Ketika pemerintah tidak lagi berkuasa, karena telah menjadi pengusaha, sementara pengusaha tidak lagi taat pada mekanisme pasar. Maka pasar kemudian diatur oleh kekuatan politik, sementara politik tidak dikendalikan lagi oleh pemerintah tetapi oleh kekuatan pasar, maka pasar bukan lagi mekanisme yang terbuka berdasarkan penawaran dan permintaan, tetapi diatur berdasarkan kekuatan otot. Siapa yang berkuasa akan kuasa menentukan harga. Pengusaha baik konglomerat maupun pemilik angkot, tukang ojek atau penjual gorengan, merasa berkuasa di habitatnya sendiri, karena itu mereka akan memaksakan harga barang dan jasanya sesuai dengan kemauannya.

Kelompok fundamentalis pasar akan kehilangan argumen melihat kenyataan ini, apalagi kenyataan ini tidak hanya berlaku dalam ekonomi nasional. Ekonomi global yang menganut kapitalisme murni ternyata juga sangat mengandalkan kekuatan pemerintah. Mereka menolak intervensi pemerintah hanya ketika mereka jaya, ketika sepenuhnya menguasai pasar dan berhasil menghisap dan melenyapkan seluruh pesaingnya. Tetapi ketika mereka mengalami kemerosotan langsung mereka memaksa pemerintah untuk memberikan pertolongan, atas nama menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Limbungnya korporasi besar di negara-negara kapitalis Barat, yang selama ini mengutuk pemerintah dan mengharamkan subsidi, ternyata ketika mereka dilanda persoalan juga minta pertolongan pemerintah melakukan subsidi kepada mereka. Beberapa yang mendapatkan subsidi selamat, sementara yang tidak mendapatkan subsidi rontok. Di sini tidak ada mekanisme pasar, memang sejak awal mekanisme pasar itu hanya mitos, semua bentuk perdagangan antar negara diatur melalui pakta politik, yang saling menerkam. Karena itulah diperlukan adanya pangkalan militer diperlukan kapal induk untuk menjaga korporasi multi nasional.

Dari situ kelihatan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah anak dari kapitalisme, dari kapitalisme itulah timbul penjajahan dunia Barat yang dimulai oleh Portugis dilanjutkan oleh Spanyol, Inggris, Perancis Belanda dan sebagainya. Semua penjajahan politik dan militer itu bertujuan ekonomi, untuk mencari bahan mentah, mencari tenaga murah dan untuk memperluas pasar. Semuanya itu tidak dijalankan berdasarkan mekanisme pasar yang adil, tetapi dijalankan dengan cara monopoli. Salah satu sumbangan terbesar kapitalisme dalam sistem ekonomi adalah monopoli ini.

Sistem pasasr adalah sistem liberal, liberal bukan untuk semua tetapi liberal dan kebebasan untuk pemilik modal dalam upaya mengembangkan modalnya, termasuk kebebasan menyingkirkan pesaingnya, tidak peduli pesaingnya itu monglomerat atau usaha kecil termasuk kaki lima. Kalau dulu pernah ada aturan dalam membangun pasar swalayan, agar tidak mengganggu pasar tradisional. Ketika kapitalisme telah diterapkan secara total, maka pasar swalayan bisa didirikan di tengah pasar tradisional, sehingga memreka kalah bersaing. Pasar Jaya milik pemerintah akhirnya mambasmi para usaha kecil kemudian menyerahkannya pada pengusahi besar, sehingga ekonomi semakin terkonsentrasi.

Mekanisme pasar yang adil yang diharapkan bisa memimpin perjalanan ekonomi itu hanya sekaadar mitos, mitos itu kini sudah runtuh dan terboingkar dan runtuh, ketika mereka ternyata takut dengan mekanisme pasar itu sendiri, pasar ternyata diatur melalui sebuah struggle, pertempuran antar kekuatan, kemapuan injak-menginjak, bentak-membentak, siapa yang punya kekuatan itu akan memangkan persaingan di pasar. Karena jelas bahwa mekanisme pasar yang adil tidak pernah ada , maka perlu lembaga pengatur yang adil yaitu pemerintah.

Maka pemerintah harus menjadi alat negara dan alat rakyat untuk mengatur kehidupan mereka. Ajaran sesat liberalisme bahwa pemerintah paling baik adalah apemerintah yang sedikit berkuasa harus dilenyapkan, karena pemerintah yang tidak berkuasa akan diterkam oleh kapitalis dan imperialis dan dijadikan budak dan alat mereka untuk menjarah negara dan menghisab rakyat. Di sinilah kita perlu membentuk negara yang kuat, pemerintah yang berwibawa dan rakyat yang cerdas.

Rabu, 20 Januari 2010

JIWA PERJUANGAN BUNG KARNO PERLU JADI SUMBER INSPIRASI


Oleh :A. Umar Said


Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO

P.S. Penulis adalah salah seorang yang ikut mengumpulkan tanda-tangan di Budapest tahun 1962, dan menjadi anggota Panitia Pusat KWAA di Jakarta.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sosok atau ketokohan Bung Karno sebagai pemimpin nasionalis revolusioner memang unik sekali. Karena itulah, dalam rangka memperingati HUT-nya yang ke-100, masalah ini penting juga untuk bersama-sama diangkat kembali atau ditelaah lagi, sebagai usaha untuk menempatkan peran sejarahnya pada ketinggian yang semestinya. Juga untuk mencoba mengerti mengapa ia sejak dari muda ia sudah menerjunkan dirinya dalam perjuangan yang penuh keberanian dan keteguhan hati untuk membela kepentingan rakyat melawan kolonialisme Belanda, dan mengapa pula ketika sudah menjadi kepala negara pun masih tetap mengemban pandangan revolusioner, baik secara nasional maupun secara internasional.

Dengan menelaah kembali ketokohan Bung Karno dari segi ini, maka akan nampak bahwa Bung Karno adalah seorang pemimpin nasionalis revolusioner yang luar biasa!!! Dengan mempelajari kembali sejarahnya, dengan membaca kembali tulisan-tulisan atau mendengarkan kembali pidato-pidatonya, dan dengan meneliti berbagai politiknya ketika sudah menjadi kepala negara, kita bisa mengerti bahwa Bung Karno adalah memang seorang pemimpin bangsa yang seluruh hidupnya telah diabdikan kepada kepentingan rakyat dan bangsa sebagai keseluruhan. Dalam hal ini, patutlah kiranya bahwa Bung Karno dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi banyak orang, yang ingin mengabdikan diri mereka kepada kepentingan rakyat banyak, atau ingin mengabdikan diri mereka kepada persatuan bangsa dan kerukunan antara berbagai golongan dalam masyarakat.

Karena sejarah Bung Karno sudah begitu lama diusahakan dipendam selama Orde Baru/Golkar, dan karena begitu banyak serangan terhadap ajaran-ajarannya atau perlawanan terhadap pandangan-pandangan politiknya di bidang nasional maupun internasional, maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang kita kenang kembali siapakah sebenarnya Bung Karno itu, dan apa pulakah artinya bagi perjuangan bangsa Indonesia.

(Sekedar untuk kita ingat-ingat bersama : alangkah pentingnya, untuk tujuan ini, bisa dikumpulkan kembali segala pidatonya yang tertulis dan yang terekam dalam piringan hitam maupun kaset - untuk dipakai sebagai kenangan dan bahan penelitian)

PERJUANGAN REVOLUSIONER SEJAK MUDA
Dengan membaca kembali sejarah Bung Karno ketika ia masih muda, jelaslah bahwa sejak dini sekali ia sudah terpanggil jiwanya oleh perjuangan bangsa. Banyak tulisan yang sudah mengungkap betapa besarnya pengaruh perjuangan Haji O.S. Tjokroaminoto (pimpinan Sarekat Islam) ketika ia mondok (in de kost) di rumahnya di Surabaya ketika Bung Karno menginjak usia dewasa. Sejak umur 15 tahun dan belajar di sekolah menengah Belanda (HBS) ia sudah bergaul dengan berbagai tokoh pergerakan nasional melawan kolonialisme Belanda. Tekad Bung Karno untuk berjuang bagi bangsa memang sudah terlihat dengan nyata sekali sejak muda. Tetapi, hal yang jarang disebut atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang adalah pengakuan Bung Karno sendiri dalam pidatonya di depan kongres PKI ke-6 di Jakarta (tahun 1959).

Dalam pidatonya itu, ia mengatakan bahwa dalam tahun 1922 atau 1923 -- artinya, ketika ia berusia 21-22 tahun telah menyelundup sebagai peninjau (penonton, katanya) untuk menghadiri kongres PKI yang diadakan di satu sekolah partikelir di Jalan Pungkur Bandung. Dikatakannya, bahwa dalam ruangan kongres yang sederhana itu, dalam deretan 15 kursi pimpinan PKI (hoofdbestuur, dalam bahasa Belandanya) ada 9 kursi yang kosong karena mereka yang harus duduk di atas kursi itu sedang meringkuk dalam penjara. (Catatan : Tentang pidato Bung Karno di depan Kongres ke-6 PKI ini, yang dikenal juga sebagai pidato "Yo sanak yo kadang, malah yen mati aku sing kelangan" - Sebagai saudara, sebagai keluarga, kalau mati saya yang kehilangan ada tulisan tersendiri).

Pengakuan Bung Karno sendiri, bahwa sebagai mahasiswa yang belajar di Sekolah Tinggi Belanda untuk menjadi insinyur, telah menyelundup untuk menghadiri Kongres PKI adalah suatu petunjuk penting untuk bisa mengerti tentang komitmennya sebagai pejuang nasionalis revolusioner. Sikapnya sebagai seorang nasionalis, yang sekaligus seorang Muslim dan juga seorang yang berpandangan Marxist diuraikannya secara jelas dalam pidatonya di depan Kongres ke-6 PKI itu (baca : Bintang Merah nomor istimewa Kongres Nasional ke-6 PKI, 1959).

Pidatonya di depan kongres PKI tahun 1959 itu mencerminkan bahwa gagasan dasarnya tentang persatuan revolusioner antara berbagai golongan bangsa bukanlah hanya ketika ia sudah menjadi kepala negara, melainkan sudah sejak ketika ia masih muda. Tulisan-tulisan Bung Karno dalam jilid pertama Dibawah Bendera Revolusi (antara lain : Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme yang ditulisnya untuk majalah Suluh Indonesia dalam tahun 1926) adalah bukti-bukti nyata tentang dasar-dasar gagasannya yang besar itu. Bagi mereka yang ingin mengerti siapa Bung Karno dan apa cita-citanya, membaca karya-karyanya dan mendengar isi berbagai pidato-pidatonya adalah penting sekali.

BUNG KARNO SEBAGAI PERPADUAN TRI-CITRA
Tentang sejarah perjuangan Bung Karno ketika ia masih muda, adalah menarik sekali untuk kita telaah kembali kata pengantar oleh Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi jilid pertama (1963), yang juga mengandung pesan bagi kita semua dalam situasi yang sedang dihadapi oleh bangsa dan negara dewasa ini, sesudah jatuhnya Orde Baru. Kata pengantar tersebut berbunyi antara lain sebagai berikut :

Kalau pembaca tergolong orang dari generasi baru, artinya tidak pernah merasakan atau melihat sendiri pasang-surutnya pergerakan kemerdekaan di jaman penjajahan Belanda (karena masih sangat muda atau belum lahir), akan mendapat pengertian yang lebih jelas tentang hakiki perjoangan kemerdekaan di masa yang lalu, yaitu yang tidak akan didapati dalam buku-buku sejarah. Antara lain akan mengerti, bahwa sejak tahun 1926 Bung Karno sudah mencita-citakan persatuan antara golongan Nasional, Islam dan Marxis, sehingga persatuan Nasakom sekarang ini pada hakekatnya bukan barang baru dalam rangka perjoangan rakyat Indonesia yang dipelopori Ir. Sukarno.

Apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisan-tulisan itu, memperjelas pengertian si-pembaca, bahwa revolusi Agustus 1945 yang berhasil gemilang itu, bukanlah suatu maha-kejadian yang berdiri sendiri atau yang terjadi dengan sendirinya, tetapi cetusan di dalam sejarah yang sangat erat hubungannya dengan persiapan-persiapan yang sudah berpuluh-puluh tahun dilakukan oleh pergerakan-pergerakan kemerdekaan di Indonesia dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Bagi pembaca yang mengalami atau melihat sendiri pasang-surutnya perjoangan kemerdekaan di jaman penjajahan Belanda dan turut merasakan atau melihat sendiri peranan Bung Karno sebagai pemimpin terbesar, buku ini merupakan penyegaran kembali pengertian dan kesedaran tentang apa sesungguhnya jiwa dan tujuan pergerakan kemerdekaan di masa lampau itu. Dengan membaca lagi tulisan-tulisan Ir. Sukarno, orang dapat menelaah diri sendiri, misalnya dengan pertanyaan : Apakah sikap dan tindakan saya sekarang ini masih sesuai dengan jiwa dan maksud pergerakan saya di masa yang lalu, yakni tujuan-tujuan yang seharusnya tidak berhenti dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia saja, tetapi harus berjalan terus menuju terkabulnya cita-cita pembentukan masyarakat adil dan sempurna (istilah Ir Sukarno di masa yang lalu) yang maksudnya tidak lain yalah masyarakat adil dan makmur. Apakah saya sudah berganti haluan dan berganti bulu, bercita-cita menjadi semacam Exponen dari kapitalisme nasional yang disinyalir dan dikutuk oleh tulisan-tulisan Bung Karno itu.

Di samping ada dua segi manfaat tersebut di atas, buku tebal inipun memberi gambaran tentang tulisan pribadi Ir. Sukarno. Dalam tulisan-tulisan itu tergambarlah Bung Karno sebagai "pendekar persatuan", sebagai "strateeg", sebagai "pendidik", sebagai "senopati" pemegang komando pergerakan kemerdekaan bangsa, sebagai seorang "Islam modern" yang gigih menganjurkan supaya pengertian Islam disesuaikan dengan kemajuan zaman yang pesat jalannya, sebagai "realis", sebagai "humanis" dan sebagai suatu pribadi tempat perpaduan tri-citra, yakni Nasionalis, Islamis dan Marxis (kutipan selesai).


MASA MUDA BUNG KARNO YANG PENUH GEJOLAK
Kalau kita teliti kembali sejarah perjuangan Bung Karno, maka nampak sekali dari tulisan-tulisannya selama masa kolonialisme Belanda, bahwa sebagai seorang pemuda ia sudah berusaha dengan segala cara untuk MEMBANGKITKAN kesadaran dan MENGHIMPUN semua kekuatan bangsa dalam melawan kolonialisme Belanda. Ketika ia masih belajar di Sekolah Tinggi Teknik Bandung, ia sudah melakukan kegiatan-kegiatan politik secara aktif. Dan sesudah tammat sebagai insinyur (tahun 1926) ia memilih jalan kehidupan yang mencerminkan tekadnya untuk mencurahkan tenaga dan fikirannya bagi perjuangan bangsa. Dalam usia 26 tahun ia sudah mendirikan PNI (4 Juli 1927) bersama-sama dengan Mr. Sartono, Mr Wilopo dan Mr Sunaryo, dengan tujuan utama : menentang kolonialisme dan imperialisme dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh adalah garis politik tidak kerjasama (non-kooperasi) dengan pemerintahan Belanda.

Salah satu di antara hasil besar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Bung Karno lewat PNI adalah terbentuknya PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) dalam bulan Desember 1927. Dalam PPPKI tergabung berbagai partai dan perkumpulan yang penting waktu itu. Dengan terbentuknya PPPKI, maka dapat dicegah adanya ketidaksatuan dalam perjuangan dalam melawan kolonialisme Belanda. Peran Bung Karno dalam PNI dan PPPKI adalah penting bagi berlangsungnya satu peristiwa yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia selanjutnya, yaitu diselenggarakannya kongres pemuda di Jakarta dalam tahun 1928. Dalam kongres inilah lahir Sumpah Pemuda : satu nusa, satu bangsa, satu bahasa : Indonesia!

Pemerintahan kolonial Belanda melihat PNI sebagai bahaya yang serius, dan karenanya dalam bulan Desember 1929, para pemimpinnya (Ir. Sukarno, Maskun, Gatot Mangkupradja dan Supriadinata) ditangkap dan diajukan ke depan pengadilan kolonial di Bandung. Dalam peristiwa pengadilan inilah Bung Karno telah makin menunjukkan kecermelangan gagagan-gagasan besarnya, lewat pidato pembelaannya yang bersejarah yang berjudul Indonesia Menggugat itu. Pada tanggal 17 April 193I pengadilan menjatuhkan vonnisnya dan karenanya Bung Karno dimasukkan dalam penjara Sukamiskin (Bandung). Kemudian, PNI terpaksa dibubarkan, demi keselamatan para anggotanya.

Setelah dibebaskan dari penjara dalam tahun 1932, Bung Karno menggabungkan diri dalam Partindo (Partai Indonesia) yang didirikan oleh teman-temannya untuk meneruskan perjuangan PNI dengan nama baru. Tetapi, karena kegiatan-kegiatan Bung Karno di Partindo dianggap terus berbahaya oleh pemerintahan kolonial Belanda, maka ia ditangkap lagi dan kemudian dibuang ke Endeh (Flores) dan diteruskan ke Bengkulu. Bung karno mengalami pemenjaraan selama dua tahun di Sukamiskin dan delapan tahun di pembuangan. Ia baru bebas dalam tahun 1942, setelah tentara Jepang menduduki Indonesia.

Kegiatan politik Bung Karno di masa mudanya (antara usia 20-an sampai 32 tahun) merupakan dasar yang membentuk kesosokannya dalam kehidupannya di kemudian hari. Tetapi, berbagai faktor situasi waktu itu juga punya pengaruh besar terhadap perjuangan Bung Karno. Di antara faktor-faktor itu adalah terjadinya pembrontakan PKI dalam tahun 1926 melawan pemerintahan kolonial Belanda (terutama di Banten dan di Sumatra Barat). Patut diingat bahwa karena pembrontakan melawan Belanda ini, sebanyak 1 300 orang telah ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digul.

UNTUK MENGHANCURKAN BUNG KARNO PERLU DIHANCURKAN PKI
Dengan latar-belakang yang demikian itulah barangkali kita bisa mencoba mengerti kepribadian Bung Karno, sebagai pejuang kemerdekaan bangsa, dan juga, kemudian, sebagai kepala negara. Sejak muda ia sudah melahirkan gagasan-gagasan besar bagi bangsa. Gagasannya yang amat cemerlang adalah yang dituangkannya dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, yang terkenal sebagai hari lahirnya Pancasila. Bahwa pada usia 44 tahun ia telah dapat merumuskan berbagai fikiran yang begitu luas dan mendalam adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa Bung Karno memang patut diakui sebagai pemimpin bangsa atau negarawan atau pemikir yang ulung.

Selama perjuangan revolusi fisik (antara 1945-sampai 1949), Bung Karno juga telah memainkan peran penting dalam memimpin revolusi besar melawan kolonialisme Belanda (dan juga Inggris, pada tahun-tahun permulaan kemerdekaan). Demikian juga setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat dan dibubarkannya (kemudian) negara federal ini, Bung Karno telah berhasil memimpin perjuangan bangsa, sampai terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tetapi, sejak tahun 1950 tidak henti-hentinya perjalanan sejarah bangsa kita mengalami berbagai persoalan yang rumit. Baik yang merupakan persoalan-persoalan dalamnegeri, sebagai bagian dari banyak persoalan negeri yang baru dibangun, maupun yang merupakan akibat dari persoalan yang berkaitan dengan faktor-faktor internasional waktu itu. Untuk sekedar mengambil sebagai contoh betapa banyaknya persoalan dalam negeri yang harus dihadapi oleh negara dan bangsa waktu itu : pembrontakan RMS, pembrontakan Andi Aziz, pembrontakan Kahar Muzakkar, pembrontakan DI-TII, akibat pemilu 1955, akibat diputuskannya perjanjian dengan Belanda, akibat pembrontakan PRRI-Permesta, perjoangan merebut kembali Irian Barat.

Di bidang internasional, faktor-faktor yang berikut juga mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung dengan perkembangan dalamnegeri Indonesia sejak tahun 1950 sampai 1965 : lahirnya RRT, persekutuan antara Taiwan (Kuomintang) dengan AS, pecahnya Perang Korea, berkobarnya perang di Indo-Cina, lahirnya ANZUS dan SEATO, penyelenggaraan konferensi Bandung dalam tahun 1955, hubungan Indonesia yang baik antara Uni Soviet dan juga RRT, peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok, kerjasama tertutup antara TNI AD dengan AS, bantuan CIA kepada pembrontakan PRRI-Permesta, didirikannya Malaysia. Banyak faktor-faktor luarnegeri ini (terutama faktor Perang Dingin waktu itu) mempunyai hubungan atau pengaruh langsung terhadap persoalan-persoalan yang timbul di dalamnegeri.

Jelaslah dari jalannya perkembangan situasi waktu itu, bagi Bung Karno menjadi sasaran bagi kekuatan-kekuatan tertentu dalamnegeri, dan juga bagi kekuatan-kekuatan asing yang sudah sejak lama melihat pada sosok Sukarno sebagai kekuatan yang harus dihancurkan atau dilumpuhkan. Percobaan pembunuhan 7 kali terhadapnya, dikepungnya Republik Indonesia, pemboikotan ekonomi oleh pasaran Barat dll, adalah usaha-usaha untuk menghancurkannya.

Dengan mempertimbangkan situasi dalamnegeri yang demikian itu, dan juga gangguan (subversi) kekuatan-kekuatan asing waktu itu, Bung Karno telah mendorong atau menyetujui lahirnya idee untuk kembali ke UUD 45, diberlakukannya SOB, sistem demokrasi terpimpin, pembentukan kabinet Gotong Royong, gagasan Nasakom, lahirnya Manipol dan USDEK, dll. Kalau kita baca kembali pidato-pidato Bung Karno sejak tahun 1958 sampai 1965, persoalan-persoalan ini dibeberkannya dengan jelas. Inti segala pidato Bung Karno waktu itu yalah penggalangan persatuan revolusioner seluruh bangsa untuk menghadapi kontra-revolusi, baik yang datang dari dalamnegeri maupun dari luarnegeri. Sekarang, berbagai hasil penelitian banyak ahli luarnegeri dengan jelas membongkar adanya usaha-usaha kekuatan asing (antara lain CIA) untuk menghancurkan kekuatan politik Sukarno (tentang soal ini ada catatan tersendiri).

Kalau kita teliti kembali perkembangan situasi dalamnegeri, maka nampaklah bahwa sejak Pemilu tahun 1955, di antara kekuatan-kekuatan politik yang mendukung Bung Karno terdapat PKI. Karena dukungan PKI kepada berbagai politik Bung Karno inilah maka baik PKI maupun Bung Karno menjadi sasaran tembak, baik oleh kekuatan-kekuatan tertentu dalamnegeri maupun luarnegeri. Kekuatan dalamnegeri dan luarnegeri yang anti-Sukarno ini tahu betul bahwa untuk menghancurkan Bung Karno perlulah dihancurkan PKI terlebih dulu. Mereka juga tahu bahwa dengan dihancurkannya PKI maka seluruh kekuatan pendukung Bung Karno akan ikut terseret digulung. Mereka juga tahu bahwa dengan menghancurkan Bung Karno, maka seluruh kekuatan progresif di Indonesia akan bisa dilumpuhkan dalam jangka lama. Dan inilah yang telah terjadi selama Orde Baru.

SEJARAH AKAN MEREHABILITASI BUNG KARNO!

Mengingat itu semua, maka patutlah kiranya bahwa dalam rangka Peringatan HUT ke-100 Bung Karno kita renungkan kembali bersama-sama banyak hal yang berkaitan dengan sejarah perjuangan Bung Karno, yang antara lain adalah sebagai berikut (sekedar sebagai bahan renungan) :

- Berdasarkan pengalaman sistem politik dan praktek-praktek Orde Baru/GOLKAR selama lebih dari 32 tahun, maka jelaslah bahwa dihancurkannya Bung Karno secara fisik dan secara politik, merupakan kerugian monumental bagi nation and character building. Seperti yang kita saksikan dewasa ini, Orde Baru telah membikin kerusakan-kerusakan besar di bidang moral bagi dua generasi bangsa, sehingga negeri kita menghadapi krisis parah di seluruh bidang.

- Gagasan-gagasan besar Bung Karno, yang di-embannya sejak usia-mudanya, tentang :

semangat persatuan bangsa, kerukunan antar-berbagai suku dan ras, semangat pengabdian kepada rakyat untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, nasionalisme yang tidak sempit, internasionalisme dalam melawan imperialisme, semangat berdikari dan gotong royong dll adalah gagasan-gagasan besar yang sampai sekarang masih punya arti penting dan berguna dijadikan referensi bersama, dan dipakai sebagai sumber inspirasi bangsa.

Bung Karno adalah pemimpin dan pendidik bangsa. Seluruh hidupnya mencerminkan bahwa ia adalah pejuang revolusioner, baik dalam skala nasional maupun skala internasional. Ia adalah negarawan yang humanis. Ia adalah seorang nasionalis, seorang Islamis (Muslim) yang juga sekaligus Marxist.

Melalui pengalaman dan waktu, sejarah akan terus membuktikan, bahwa Bung Karno memang seorang putera Indonesia yang patut dihormati. Dan juga dijadikan sumber inspirasi dalam perjuangan untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat dan bangsa.

Paris, 24 April 2001

BUNG KARNO SEBAGAI SIMBUL PERSATUAN BANGSA


Oleh :A. Umar Said


Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO

Situasi bangsa dan negeri kita dewasa ini sedang dilanda oleh beraneka-ragam pertentangan besar maupun kecil dan berbagai keruwetan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan juga (!!!) kebobrokan moral. Artinya, krisis yang multi-dimensional dan parah telah - dan sedang terus - memporak-porandakan berbagai sendi-sendi penting kehidupan bangsa. Begitu hebatnya krisis yang bersegi banyak ini, sehingga banyak orang kuatir akan terjadinya desintegrasi negara dan bangsa, atau membayangkan masa yang serba gelap di kemudian hari. Karena begitu besarnya kekacauan di berbagai bidang itu, banyak orang sudah bertanya-tanya : mengapa keadaan bisa menjadi begini?

Bahwa banyak orang bertanya-tanya (atau mempertanyakan) mengapa keadaan negara dan bangsa kita sekarang bisa menjadi seperti yang sama-sama kita saksikan sekarang ini, itu sudah merupakan pertanda yang baik. Sebab, dari situ orang bisa mulai berusaha untuk mencari sebab-sebabnya. Dan setelah berusaha mencari sebab-sebabnya, maka kemudian berusaha untuk mencari penyelesaiannya (solusinya). Sekarang ini, banyak orang sudah mulai yakin bahwa sebab utama atau sumber pokok segala krisis multi-dimensional sekarang ini adalah kesalahan sistem politik Orde Baru. Dan karena hasil buruk sistem politik Orde Baru ini sudah makin - lebih jelas lagi - diketahui oleh banyak orang (yang jumlahnya juga makin membesar terus), maka soal ini tidak diungkap lebih panjang-lebar lagi dalam tulisan kali ini.

Barangkali, yang lebih penting untuk sama-sama kita renungkan bersama adalah: apa sajakah yang harus ditempuh bersama, supaya segala keruwetan di berbagai bidang sekarang ini bisa ditangani, atau dengan cara apa sajakah krisis multi-dimensional parah sekarang ini bisa diatasi?

Sekarang ini, seluruh bangsa sedang menunggu hasil perebutan kekuasaan para “elite”, baik melalui cara “dagang-sapi”, maupun lewat SI MPR, atau dengan cara-cara lain (umpamanya : kerusuhan, rekayasa kotor dll). Kita belum tahu, apakah Gus Dur akan bisa mempertahankan kedudukannya sebagai presiden/kepala negara sampai 2004. Tetapi, apa pun yang akan terjadi, atau siapa-siapa saja pun yang berkuasa, dan bagaimana pun politik pemerintah seterusnya, satu hal yang jelas adalah : beraneka-ragam kesalahan-kesalahan Orde Baru tidak boleh diteruskan atau dilestarikan, termasuk kesalahan politiknya terhadap Bung Karno. Sebab, sudah terbukti selama lebih dari 32 tahun bahwa kesalahan politik Orde Baru terhadap Bung Karno telah membawa akibat-akibat buruk yang parah sekali di berbagai bidang bagi bangsa dan negara.

PENGUNGKAPAN SEJARAH PENGGULINGAN BUNG KARNO
Akhir-akhir ini sudah mulai muncul berbagai tulisan mengenai sejarah terjadinya penggulingan kekuasaan Presiden Sukarno oleh para pendiri Orde Baru. Ini perkembangan yang menggembirakan. Sebab, penggulingan Presiden Sukarno oleh pimpinan TNI-AD (dengan dukungan kekuatan asing) adalah peristiwa besar nasional, yang telah membuka jalan bagi kerusakan-kerusakan besar yang diwariskannya kepada kita semua dewasa ini. Oleh karena itu, perlulah kita dorong terus para sejarawan kita, para pakar di berbagai bidang, para pelaku sejarah yang mengalami peristiwa itu, untuk mengungkap berbagai aspek tentang sejarah penggulingan Bung Karno, beserta akibat-akibatnya.

Dewasa ini, Iklim politik di negeri kita sudah berobah. Rezim militer Suharto dkk sudah tumbang, walaupun sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih cukup besar di mana-mana. Kebebasan menyatakan pendapat atau fikiran sudah tidak terbelenggu atau terancam seperti selama puluhan tahun dizaman Orde Baru. Namun, karena beraneka-ragam pertimbangan atau sebab (antara lain : kepentingan kehidupan keluarga, pertimbangan politik atau golongan, keselamatan pekerjaan atau kedudukan dll) masih banyak orang yang tetap terus belum berani menyatakan terus-terang pendapat atau sikap mereka secara terang-terangan. Terrorisme mental yang sudah dilakukan begitu lama masih ada dampaknya yang dalam di berbagai kalangan.

Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Bung Karno pengungkapan sejarah perjuangan Bung Karno, (termasuk masalah penggulingannya oleh para pendiri Orde Baru/Golkar) perlulah kiranya diungkap sebanyak mungkin dan seobjektif mungkin oleh fihak yang mana pun juga. Bahkan, sesudah Peringatan 100 Tahun Bung Karno pun pekerjaaan untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan Bung Karno ini perlu diteruskan, dengan tujuan untuk menyuburkan iklim sejuk bagi tergalangnya rekonsiliasi nasional.

Penggulingan Bung Karno oleh para pendiri Orde Baru mempunyai latar-belakang yang luas dan faktor yang bersegi banyak, yang saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada faktor pandangan atau sikap pribadi Bung Karno mengenai berbagai soal yang dianutnya sejak muda (umpamanya, mengenai: imperialisme dan kolonialisme, perlunya penggalangan kekuatan nasional dalam menyelesaikan revolusi 17 Agustus menuju masyarakat adil dan makmur, pandangannya tentang nasionalisme, Islam dan Marxisme dll). Ada juga faktor situasi dalamnegeri yang cukup rumit waktu itu, di samping faktor luarnegeri (antara lain : Perang Dingin yang memuncak waktu itu, dan usaha Kubu Barat untuk menarik Indonesia kedalam kubu mereka dll). Semuanya itu merupakan faktor atau latar-belakang yang penting diungkap untuk bisa dijadikan bahan untuk menilai Bung Karno dari berbagai sudut pandang, dan menyeluruh.

Melalui pengungkapan berbagai latar-belakang dan faktor itu bisa diharapkan akan bisa diketahui lebih jelas lagi oleh banyak orang bahwa Bung Karno sudah berusaha berbuat sebanyak mungkin dan sebisa mungkin, untuk menjaga persatuan bangsa dan Republik Indonesia, dalam situasi yang sulit dan rumit, baik secara nasional maupun internasional waktu itu.

AKIBAT DIGULINGKANNYA BUNG KARNO
Setelah bangsa kita melalui masa gelap Orde Baru, maka nyatalah dengan jelas bahwa penggulingan Bung Karno telah mengakibatkan kerusakan-kerusakan besar sekali. Sebagai bahan pemikiran bersama tulisan ini mengajak untuk menelaah hal-hal sebagai berikut :

- Setelah Bung Karno digulingkan, bukan saja Indonesia telah kehilangan seorang pemimpin yang berkaliber besar, tetapi sekaligus rakyat seluruh Indonesia juga kehilangan pedoman moral. Sekarang makin terbukti bahwa Suharto dkk yang memimpin negeri selama lebih dari 32 tahun tidaklah bisa dijadikan contoh moral yang baik (KKN yang merajalela, penumpukan kekayaan secara berlebih-lebihan dengan jalan tidak sah dll dll)

- Bung Karno telah “dihancurkan” oleh para pendiri Orba/Golkar dan dengan dihancurkannya Bung Karno, maka boleh dikatakan bahwa seluruh kekuatan revolusioner yang mendukungnya juga ikut dilumpuhkan dalam jangka panjang. Lumpuhnya kekuatan revolusioner (yang tergolong dalam PNI, PKI, dan sebagian kalangan Islam) merupakan kerugian besar dan malapetaka bagi bangsa keseluruhan.

- Bertolak-belakang dengan ajaran dan perjuangan Bung Karno yang selalu mengusahakan persatuan bangsa, praktek dan politik Orde/Golkar selama puluhan tahun telah memperuncing pertentangan SARA dan permusuhan di antara berbagai komponen bangsa (lihat, antara lain : peristiwa Aceh, Irian Barat, Maluku, kasus ex-tapol, perlakuan terhadap para keluarga korban pembunuhan 65, penindasan terhadap golongan-golongan yang memperjuangkan demokrasi dan HAM, dll).

- Berkecamuknya kerusuhan-kerusuhan yang bersifat SARA, dan munculnya sikap tidak toleran antar berbagai komponen bangsa, adalah bukti bahwa sebagai akibat digulingkannya Bung Karno maka ajaran-ajarannya tentang “nation building and character building” telah dihancurkan sama sekali oleh Orde Baru/Golkar


BUNG KARNO SEBAGAI SIMBUL PERSATUAN BANGSA
Bahwa Bung Karno adalah pendekar persatuan bangsa telah dibuktikan oleh perjuangannya sejak muda, ketika ia ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda di Endeh (Flores) dan kemudian di Bengkulu, sampai dikumandangkannya Proklamasi 17 Agustus. Dengan kecerdikan siasatnya, ia juga telah berhasil menggunakan kesempatan pendudukan Jepang untuk meneruskan perjuangannya dalam menggalang persatuan dan menggugah kesadaran bangsa.

Setelah menjabat sebagai kepala negara (presiden) pun, Bung Karno telah berulang kali menunjukkan sebagai satu-satunya pemimpin Indonesia, yang dengan gigih, konsekwen, tulus, dan sepenuh hati mengabdi kepada persatuan bangsa dan kepentingan rakyat banyak (tentang soal ini ada catatan tersendiri). Sampai akhir hayatnya, sikap ini tetap dipertahankannya, walaupun menghadapi kesulitan-kesulitan yang amat besar bagi dirinya sendiri, dan bagi keluarganya.

Dalam kaitan ini, patutlah kiranya diulangi dalam tulisan ini apa yang diutarakan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya selaku Ketua Umum PDI-P ketika kampanye pemilu tahun 1998. Dalam akhir pidatonya itu ia mengutip kembali pesan (wasiat) ayahnya, Bung Karno, sebagai berikut:

”Anakku, simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada Rakyat, biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan Rakyat dan di atas segala-galanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”. (kutipan habis).

Saudara-saudara para pembaca sekalian! Marilah sama-sama kita renungkan dalam-dalam dan dengan hati yang jernih, arti besar pesannya itu. Bung Karno, yang pernah memimpin perjuangan bangsa puluhan tahun, harus menderita dan menanggung kesakitan atau kepedihan hati pada akhir hidupnya, demi keyakinannya yang teguh, yaitu : mempersatukan bangsa. Ia menderita dalam kepedihan, namun, ia mengatakan “Biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu”. Alangkah agungnya makna kalimat ini!. Demikian juga kalimatnya yang berbunyi :”Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan Indonesia”. Alangkah dan megahnya jiwa yang berdiri di belakang kalimat ini!

Sekarang ini, seandainya Bung Karno bisa hidup lagi, alangkah besarnya kekecewaannya ketika ia melihat bahwa pengorbanannya itu telah sia-sia saja selama lebih dari 32 tahun. Pastilah ia akan menangis menyaksikan bahwa persatuan bangsa sedang terkoyak-koyak dan keutuhan bangsa juga tercabik-cabik. Dan alangkah sedih hatinya bahwa kejayaan bangsa yang diidam-idamkannya dan diperjoangkannya sejak muda sampai alkhir hayatnya, sedang makin menjauh, gara-gara sistem politik dan praktek-praktek Orde Baru/Golkar selama puluhan tahun.

AJARAN BUNG KARNO PERLU DISEBARLUASKAN
Mengingat itu semua, maka jelaslah bahwa sejak sekarang segala cara perlu ditempuh, dan berbagai bentuk sarana juga perlu dicari, untuk menyebarluaskan kembali ajaran-ajaran Bung Karno. Pada dewasa ini, dan juga untuk masa-masa yang akan datang, menyebarluaskan ajaran Bung Karno mempunyai arti penting dan juga merupakan kebutuhan kongkrit. Kiranya, berbagai hal yang berikut bisa dipertimbangkan sebagai bahan renungan bersama :

- Menyebarluaskan kembali ajaran Bung Karno berarti menunjukkan bahwa isi, orientasi, dan praktek sistem politik Orde Baru adalah sama sekali bertentangan dengan tujuan revolusi 17 Agutus 45, dan cita-cita para “founding fathers” Republik Indonesia, dan juga para pejuang perintis kemerdekaan sebelumnya.

- Menyebarluaskan ajaran Bung Karno berarti merupakan sumbangan kepada usaha-bersama dalam pemupukan semangat persatuan bangsa, kerukunan nasional, toleransi antar-agama dan antar-suku dan antar-ideologi politik. Artinya, merupakan usaha positif untuk menghadapi situasi aktual yang penuh dengan berbagai permusuhan.

- Menyebarluaskan kembali ajaran-ajaran Bung Karno juga berarti mengisi kekosongan gagasan-gagasan besar mengenai kehidupan bangsa dan negara dan pengabdian kepada kepentingan rakyat. Sebab, Orde Baru bukan saja tidak melahirkan gagasan-gagasan besar, bahkan telah merusak apa yang sudah dibangun selama puluhan tahun oleh Bung Karno bersama-sama dengan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya.

- Menyebarluaskan kembali ajaran Bung Karno merupakan alat atau sarana bagi seluruh kekuatan pro-reformasi untuk mengembangkan pendidikan politik di kalangan rakyat akan prinsip-prinsip besar dalam mempersatukan bangsa, dan pengabdian kepada kepentingan rakyat.

MASALAH KONTRA ATAU PRO BUNG KARNO
Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Bung Karno dan juga usaha-bersama untuk menyebarluaskan kembali ajaran Bung Karno pastilah akan muncul suara-suara yang anti terhadap Bung Karno beserta ajaran-ajarannya. Mengingat bahwa Orde Baru telah mendominasi kekuasaan di seluruh bidang kehidupan bangsa dan negara selama lebih dari 32 tahun dan memusuhi Bung Karno beserta ajaran-ajarannya, maka wajarlah bahwa dewasa ini masih banyak di antara pendukung Orde Baru (terutama di kalangan “elite” berbagai golongan, termasuk pejabat-pejabat pemerintahan) yang bersikap memusuhi ajaran-ajaran Bung Karno. (Maklum, mereka ini kebanyakan belum pernah membaca atau tidak mengenal secara baik ajaran-ajaran Bung Karno. Kalaupun mereka sudah pernah membacanya, mungkinlah hanya sepotong-potong atau berdasarkan bahan-bahan yang dibolehkan beredar selama kekuasaan Orde Baru).

Mungkin, banyak juga orang-orang yang merasa sudah “mengenal” ajaran-ajaran Bung Karno secara serius tetapi mempunyai sikap kritis atau bahkan menentangnya. Sesuai dengan prinsip-prinsip kebebasan berfikir dan menyatakan pendapat, bersikap tidak suka kepada ajaran Bung Karno adalah hak yang sah bagi seseorang. Tetapi, kalau karena anti Bung Karno kemudian mendukung Orde Baru, inilah sesuatu yang nyata-nyata salah. Sebab, sejarah sudah membuktikan betapa besarnya dosa dan banyaknya kerusakan yang telah dilakukan Orde Baru/Golkar terhadap bangsa. Perlulah kiranya kita mengerti bahwa ada orang-orang yang tidak suka kepada ajaran Bung Karno tetapi menentang sistem politik Orde Baru juga. Yang perlu kita waspadai bersama adalah orang-orang yang anti ajaran-ajaran Bung Karno, tetapi sekaligus (secara terbuka atau tertutup) mendukung sistem politik Orde Baru.

Terhadap orang-orang yang semacam itu perlu diingatkan : menentang ajaran-ajaran Bung Karno janganlah digunakan untuk berusaha menghalang-halangi pemblejedan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Orde Baru/Golkar. Juga, janganlah karena ingin meneruskan politik Orde Baru/Golkar maka mereka menghalangi-halangi (dalam bentuk apa pun atau cara apa pun juga) disebarluaskannya ajaran-ajaran Bung Karno. Dalam konteks era reformasi dewasa ini, menghalang-halangi disebarluaskannya ajaran Bung Karno adalah menguntungkan sisa-sisa kekuatan Orde Baru, yang masih tersembunyi dimana-mana.

Penyebarluasan kembali ajaran Bung Karno adalah dengan tujuan untuk merajut kembali persatuan bangsa, dan bukan sebaliknya. Di sinilah letak perbedaan antara ajaran Bung Karno dan “ajaran Orde Baru”.

Paris, 11 April 2001

MEMPERINGATI HUT KE 100 BUNG KARNO DI BAWAH BENDERA REVOLUSI


Oleh :A. Umar Said


Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO

Sekarang ini, sulit ditaksir berapakah kiranya jumlah buku "Dibawah Bendera Revolusi", yang berisi karya-karya Bung Karno, masih beredar di seluruh Indonesia. Mungkin, tidak banyak lagi. Juga sulitlah agaknya menebak-nebak, apakah mudah untuk mendapatkannya secara lengkap, baik dalam toko-buku maupun lewat saluran-saluran lainnya. Sebab, buku ini sudah lama sekali diterbitkan (lebih dari 35 tahun). Di samping itu, selama itu pula, banyak orang merasa takut untuk ketahuan bahwa memilikinya. Sistem politik (dan kebudayaan) Orde Baru telah membikin banyak orang takut atau segan berbicara tentang dirinya, tentang sejarah perjuangannya, dan tentang karya-karyanya. Oleh karenanya, banyak sekali orang (apalagi generasi yang sekarang) yang tidak tahu tentang adanya buku ini. Kalaupun pernah mendengarnya, maka tidak mengetahui isinya.

Begitu hebatnya kampanye "de-sukarnoisasi" yang dilakukan secara permanen dan sistematis terhadap sejarah bangsa kita, dan begitu parahnya trauma yang diakibatkan oleh tindakan para pendiri Orde Baru terhadap Bung Karno, sehingga banyak orang tidak berani menyimpan (atau menjual) buku-buku yang berisi karya-karyanya (pidato, ceramah, tulisan dll). Bahkan, konon, tidak sedikit yang terpaksa menyembunyikannya rapat-rapat, membakarnya atau menghancurkannya secara diam-diam. Oleh karenanya, amatlah sulit sekarang ini, untuk bisa mendapatkan buku "Dibawah Bendera Revolusi" ini, baik dikota-kota besar Indonesia, maupun (atau, apalagi!) dikota-kota kecil. Dalam banyak perpustakaan umum maupun perpustakaan universitas dan lembaga-lembaga penting pun, buku ini juga sudah "menghilang" atau dihilangkan.

Setelah sama-sama melampaui masa Orde Baru, maka nyatalah bahwa dalam rangka penghayatan sejarah perjuangan bangsa, dan pendidikan patriotisme dan nasionalisme, atau juga pemupukan moral bangsa dan semangat pengabdian kepada kepentingan rakyat, maka penyebarluasan buku-buku yang memuat ajaran atau gagasan Bung Karno adalah penting sekali. "Dibawah Bendera Revolusi" adalah salah satu di antaranya. Dari buku inilah kita akan dapat menelusuri kembali perkembangan fikiran atau gagasannya yang berkaitan erat dengan problem-problem nasional dan internasional yang terjadi baik sebelum Republik Indonesia diproklamasikan maupun sesudahnya. Dalam buku inilah kelihatan betapa cemerlangnya pemikiran-pemikirannya di bidang politik, betapa agungnya wawasannya di bidang persatuan bangsa, dan betapa besarnya kecintaannya kepada rakyat, dan terutama kepada rakyat "kecil".

BUKU-BUKU BUNG KARNO PERLU DIPERBANYAK
Zaman memang sudah berobah, waktu pun sudah bergulir panjang dan lama. Banyak problem yang dihadapi bangsa Indonesia kita dewasa ini juga jauh berbeda dengan yang dihadapi sebelum berdirinya Orde Baru. Di samping itu, situasi internasional pun sudah berobah, yang mendorong juga terjadinya perobahan-perobahan di Indonesia, termasuk perobahan dalam cara berfikir banyak orang. Namun, ketika membaca kembali karya-karya atau gagasan-gagasan Bung Karno, antara lain yang tertera dalam buku "Dibawah Bendera Revolusi", maka akan nampaklah bahwa banyak pandangan-pandangannya yang, sekarang ini, masih tetap relevan untuk dijadikan referensi. Dengan kalimat lain, bisalah kiranya dikatakan bahwa banyak pemikiran-pemikiran dasarnya yang masih tetap bisa dijadikan pegangan atau patokan untuk memandang berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa kita dewasa ini. Mengingat itu semuanya, maka terasa sekalilah sekarang ini, betapa pentingnya untuk menerbitkan kembali karya-karya Bung Karno sebanyak mungkin dan juga menyebar-luaskannya. Dengan usaha bersama untuk menyebar-luaskan gagasan-gagasan besar Bung Karno, maka kita akan memberikan sumbangan kepada bangsa untuk :

- Menemukan kembali arah tepat yang perlu bersama-sama ditempuh menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur, mengingat bahwa Orde Baru telah membawa bangsa kita ke arah yang sesat selama puluhan tahun
- Membangkitan kembali bangsa, sehingga kesadaran akan pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa menjadi pulih kembali, dan terhindar dari perpecahan yang berbau SARA
- Memupuk semangat kerakyatan dan semangat mengabdi kepada rakyat, patriotisme dan nasionalisme (yang tidak sempit)
- Menggugah semangat revolusioner seluruh bangsa, untuk bisa terus memperjuangkan tercapainya cita-cita revolusi 17 Agustus di bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Sekarang ini, suasana politik di Indonesia sudah memungkinkan untuk mngumandangkan lagi suara Bung Karno. Setelah kepengapan udara selama lebih dari 32 tahun, bangsa kita butuh menghirup angin segar atau hawa baru. Berbagai karya asli atau gagasan otentik Bung Karno yang bisa disebar-luaskan dalam berbagai bentuk juga akan merupakan vitamin bagi banyak orang untuk melanjutkan revolusi. Karya-karya ini seyogyanya bisa diterbitkan dalam brosur-brosur kecil, sehingga terjangkau oleh banyak orang. Di samping itu, berbagai ceramah atau seminar (atau tukar-fikiran dalam bentuk-bentuk lainnya) perlu bersama-sama digelar sebanyak mungkin di mana-mana.

SUMBER ILHAM YANG TIADA KERING-KERINGNYA
Dalam merenungkan pengalaman selama Orde Baru, maka terasa sekalilah bahwa bagi banyak orang terjadi kekosongan kepemimpinan moral yang berbobot dan kekosongan guru bangsa yang bisa menjadi sumber ilham perjuangan. Dengan tetap menghormati sejumlah tokoh di berbagai bidang yang berhak untuk mendapat penghargaan dan penghormatan, maka patutlah diakui bersama bahwa Bung Karno, bagaimana pun juga, adalah pemimpin bangsa yang terbesar selama ini. Ia besar bukan hanya berkat pandai berpidato atau mengobarkan semangat banyak orang, melainkan (dan, bahkan, terutama sekali!) berkat kebesaran ajaran-ajarannya. Sebagian besar dari ajaran-ajarannya yang penting itu terhimpun dalam buku "Dibawah Bendera Revolusi".

Sampai akhir tahun 1965, "Dibawah Bendera Revolusi" yang sudah beredar luas terdiri dari dua jilid. Jilid pertama terdiri dari 650 halaman, yang memuat dokumen-dokumen penting karya Bung Karno. Antara lain, yang berjudul :
- Nasionalisme, Islam dan Marxisme
- Indonesia Menggugat
- Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi
- Memperingati 50 tahun wafatnya Karl Marx
- Indonesia versus fasisme
- dll. dll.

Sedangkan jilid kedua (598 halaman), memuat 20 pidato kenegaraan Bung Karno setiap tahun (dalam rangka memperingati 17 Agustus) sejak tahun 1945 sampai 1964. Dalam jilid kedua ini dapat kita baca antara lain :
"Tahun tantangan", "Penemuan kembali Revolusi kita",
"Jalannya revolusi kita",
"Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional",
"Tahun kemenangan",
"Genta suara Republik Indonesia",
"Tahun Vivere Pericoloso".

Dalam kata pendahuluan buku jilid kedua (diterbitkan 20 Agustus 1964), ketua Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, H. Mualliff Nasution (pembantu terdekat Bung Karno), menulis antara lain sebagai berikut :

"Seiring dengan tekad bangsa Indonesia untuk mengganyang terus proyek Neo-Kolonialis "Malaysia", khusus untuk jilid kedua ini dihimpun 20 buah pidato 17 Agustus dari Presiden Soekarno, dengan maksud bukan sekadar untuk memudahkan penelitian dan peninjauan kembali jalannya Revolusi Indonesia serta bahan perbandingan kemajuan antara babak yang satu dengan lainnya, tetapi dengan maksud utama, adalah agar himpunan 20 pidato 17 Agustus ini, tetap memberi api baru - memberi dorongan dan kekuatan baru - bahkan menjadi pusaka keramat untuk menjadi bimbingan yang menyeluruh ke arah tujuan Revolusi Indonesia, yaitu terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Panca Sila.

Sesuai dengan penjelasan pada jilid pertama, maka himpunan 20 buah pidato 17 Agustus ini, bukan hanya sekadar untuk penghias lemari-buku dan memperkaya khasanah perpustakaan dengan sebuah buku yang bernilai dokumenter yang menjadi sumber bagi penulisan sejarah Revolusi Indonesia, tetapi adalah agar menjadi pegangan hidup yang senantiasa segar - menjadi sumber ilham yang tiada kering-keringnya - baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang, demikian pula agar menjadi bahan penelitian ilmiah bagi ahli politik, ahli sosiologi, ahli hukum dan lain sebagainya.

Karena itu, persembahan himpunan 20 buah pidato 17 Agustus ini kepada rakyat Indonesia, adalah dengan maksud agar kita semua mempunyai pegangan yang sama menggerakkan Revolusi Indonesia menuju kemenangan" (kutipan habis).


PUSAKA UNTUK MENERUSKAN REVOLUSI
Mengingat besarnya kerusakan-kerusakan yang telah ditimbulkan oleh Orde Baru di berbagai bidang selama lebih dari 32 tahun, maka patutlah kiranya pada kesempatan Peringatan 100 Tahun Bung Karno sekarang ini, seluruh kekuatan pro-reformasi dengan berani - dan dengan lantang pula - bersuara kepada siapa saja bahwa Bung Karno adalah milik bersama seluruh bangsa Indonesia. Seluruh kekuatan pro-reformasi perlu dengan tegas menyatakan bahwa pusaka (warisan) berharga yang berupa ajaran-ajarannya adalah jalan untuk mempersatukan kembali bangsa kita, yang sekarang ini sedang di ambang perpecahan yang serius.

Perlulah diusahakan - dengan berbagai jalan dan bentuk - berkembangnya kesadaran di kalangan sebanyak mungkin golongan dalam masyarakat bahwa gagasan-gagasan Bung Karno (sejak muda sampai wafatnya) adalah demi kepentingan rakyat banyak, demi revolusi menuju masyarakat adil dan makmur. Oleh karenanya, dalam menghadapi situasi politik yang ruwet dewasa ini, ajaran-ajaran Bung Karno dapat dijadikan ikatan bersama untuk menyelesaikan reformasi. Pusaka Bung Karno ini dapat digunakan oleh seluruh kekuatan pro-reformasi untuk meneruskan revolusi, meneruskan pembangunan kekuatan bangsa di berbagai bidang.

Dengan makin dikenalnya ajaran-ajaran Bung Karno secara luas, maka akan makin nyatalah bagi banyak orang bahwa situasi yang diwariskan oleh Orde Baru - dan juga sistem politik yang dilakukan oleh rezim militer selama lebih dari 30 tahun - adalah bertentangan sama sekali dengan ajaran-ajarannya. Pengenalan atau penghayatan secara baik ajaran-ajaran Bung Karno akan memungkinkan bagi banyak orang untuk lebih mengerti mengapa ia telah digulingkan oleh para pendiri Orde Baru dan kekuatan-kekuatan asing (waktu itu). Dengan membeberkan sejarah perjuangannya dan menyampaikan dengan gamblang ajaran-ajarannya, maka banyak orang akan makin yakin bahwa Bung Karno adalah pejuang besar nasionalis yang dimusuhi oleh Orde Baru.

Mungkin saja, bahwa dalam rangka Peringatan 100 Tahun Bung Karno ini, akan muncul suara-suara yang serba negatif terhadapnya. Bahwa ada sikap yang bersifat kritis terhadap kesalahan-kesalahan Bung Karno, adalah wajar, atau bahkan baik. Tetapi, kalau ada orang-orang yang bersikap semata-mata memusuhi ajaran-ajaran Bung Karno dan meniadakan sama sekali jasa-jasanya terhadap perjuangan bangsa, adalah sesuatu yang patut disayangkan! Sebab, ketika kesalahan para pendiri Orde Baru terhadap Bung Karno sekarang ini sudah makin terbelejedi, maka patutlah disayangkan bahwa mereka itu masih mau meneruskan kesalahan-kesalahan itu. (Tentang soal ini ada catatan tersendiri).

MENGANGKAT BUNG KARNO DEMI REKONSILIASI NASIONAL
Agaknya, yang berikut ini bisa kita jadikan renungan bersama. Yaitu : mengangkat kembali Bung Karno bukanlah hanya masalah sejarah. Memang, sejarah tentang Bung Karno telah diusahakan untuk dibikin gelap oleh para pendiri Orde Baru beserta para pendukungnya, yang terdiri dari segala macam orang dan dari berbagai golongan ( bersyukurlah kita, hendaknya, bahwa sekarang ini banyak juga di antara mereka yang sudah mengobah pandangan salah mereka terhadapnya). Tetapi, usaha bersama untuk mengangkat kembali Bung Karno pada tempat yang selayaknya juga merupakan kebutuhan AKTUAL dan URGEN bagi bangsa kita dewasa ini, khususnya dalam merajut kembali kerukunan bangsa dalam rangka rekonsiliasi nasional.

Sebab, perlulah sama-sama kita sadari - dan juga tidak usah kita tutup-tutupi, - bahwa masalah Bung Karno pernah dijadikan sumber pertentangan oleh para pendiri Orde Baru beserta para pendukung setia mereka (yang, sekali lagi, sudah mulai banyak yang berobah). Bung Karno, yang seluruh hidupnya disumbangkan untuk mempersatukan bangsa demi perjuangan melawan kolonialisme Belanda dan imperialisme - dan membangun Republik Indonesia - telah dijadikan faktor perpecahan bangsa, dan, juga, dalam jangka yang lama sekali. Kesalahan mereka inilah yang sekarang ini harus dibetulkan bersama-sama. Demi persatuan kembali bangsa, demi kerukunan antar-golongan, antar-suku, antar-agama, antar-pandangan politik, maka Bung Karno perlu dijadikan lagi sebagai simbul persatuan.

Dalam kaitan betapa pentingnya Bung Karno sebagai simbul persatuan bangsa adalah menarik untuk dikemukakan dalam tulisan kali ini sikap yang diambil oleh wartawan senior Haji Mahbub Djunaidi, yang pernah menjabat sebagai anggota DPR-GR/MPRS, pemimpin redaksi suratkabar NU "Duta Masyarakat" (1960-1970), Ketua Umum PWI Pusat (1965-1970) dan Ketua DPP NU (1986). Ketika masa mudanya ia juga menjabat sebagai Ketua Umum yang pertama kali PMII (organisasi mahasiswa di bawah NU) dalam tahun 1960-1967.

Dalam buku "Mahbub Djunaidi, Asal Usul" ( diterbitkan oleh Kompas, 1996) wartawan senior M. Said Budairy (bekas sekjen PWI Pusat dan pimpinan Duta Masyarakat) menulis berbagai aspek tentang perjalanan hidup kawan dekatnya itu, dan juga tentang pandangan atau sikap Mahbub mengenai Bung Karno, Pancasila, Pramoedya Ananta Toer dll. Dalam tulisannya itu, bung Said Budairy antara lain menulis :

"Dalam suatu tulisan di harian Duta Masyarakat Mahbub mengemukakan pendapatnya bahwa Pancasila mempunyai kedudukan yang lebih sublim dibanding Declaration of Independence susunan Thomas Jefferson yang menjadi pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1874. Tulisan itu dibaca oleh Bung Karno, yang kemudian minta kepada KH Saifudin Zuhri agar Mahbub diajak ke istana" (kutipan habis).

Dalam buku "Sketsa Kehidupan dan surat-surat pribadi sang pendekar pena MAHBUB DJUNAIDI" (1996, penyunting Ridwan Saidi dan Husein Badjerei), ada tulisan Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, yang berupa sambutan terhadap terbitnya buku tersebut. Di situ dapat kita baca, antara lain, sebagai berikut :

Bapak H. Mahbub Djunaidi memang salah seorang pendekar Indonesia. Beliau dikenal sebagai pendekar pena, karena ketajaman analisanya atas peristiwa, sementara arah tulisannya tetap bertolak dari keyakinan cita-cita sebagai landasan ideologi. Beliau juga dikenal sebagai pendekar politik dari partai agama melalui lingkungan Nahdlatul Ulama, yang taat kepada azas hablum minannas, yakni hubungan yang setara antara manusia dengan manusia.

Namun di sisi lain, saya juga mengenal Bapak Haji Mahbub Djunaidi oleh sikap ksatrianya yang hampir tidak mungkin ditemui pada siapa pun dalam dekade setelah tujuhpuluhan. Suatu sikap tulus yang mengakui kebenaran ajaran Bung Karno, dengan menamakan sebuah beranda depan rumahnya di Bandung sebagai "Soekarno House". Dan di beranda itulah beliau kerap kali bertukar pikiran dengan para tamu, termasuk sesama pengurus Yayasan Pendidikan Soekarno (Y.P.S.) mengenai Bung Karno dan ajarannya.

Memang Bapak Haji Mahbub Djunaidi adalah Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Pendidikan Soekarno, sampai pada akhir hayatnya. Oleh karena itu, saya juga menilai beliau sebagai salah seorang pendekar pelaksana ajaran Bung Karno" (kutipan singkat habis disini).

Beberapa kutipan tentang sikap rekan Mahbub Djunaidi ini (penjelasan : penulis pernah sama-sama menjadi Pengurus PWI Pusat selama periode 1963 sampai September 1965) patutlah kiranya menjadi renungan bagi banyak orang dewasa ini. Mengapa ia, sebagai seorang tokoh Islam dan wartawan terkemuka (yang juga pernah mengemban tugas penting dalam berbagai organisasi yang berafiliasi dengan NU) telah menjadi Ketua Dewan Pendidikan Yayasan Pendidikan Soekarno ? Mengapa ia menjadikan bagian depan rumahnya di Bandung sebagai "Soekarno House"? Dan, juga, mengapa ia yakin bahwa ajaran-ajaran Bung Karno perlu dipelajari oleh banyak orang?

* * *

Paris, 7 April 2001